Tokoh Adat Buay Nuban Angkat Bicara: Asal-Usul Kota Metro Jangan Terlupakan

Kota Metro, Portalmetrokita – Peringatan Hari Ulang Tahun Kota Metro, sejumlah tokoh adat Buay Nuban mulai menyuarakan pentingnya penghormatan terhadap sejarah asal-usul kota. Mereka menilai narasi sejarah Metro perlu disampaikan secara lebih utuh, tidak hanya berfokus pada masa kolonisasi dan peninggalan bangunan bersejarah, tetapi juga pada keberadaan masyarakat adat yang telah lebih dahulu mendiami wilayah tersebut.

Sesepuh Suttan salah satu tokoh adat Buay Nuban dari Bumi Ratu Nuban menyampaikan, bahwa sejarah Kota Metro tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Marga Nuban sebagai pemilik wilayah adat sebelum datangnya program kolonisasi pada era 1930-an.

Menurutnya, mengingat sejarah tidak cukup hanya dengan menjaga bangunan peninggalan masa lalu seperti Gedung Wedana dan situs-situs kolonial lainnya. Penghormatan terhadap sejarah juga harus diwujudkan dengan menjaga ingatan kolektif mengenai asal-usul wilayah, termasuk peran masyarakat adat Buay Nuban dalam perjalanan lahirnya Kota Metro.

“Sejarah bukan hanya soal bangunan yang masih berdiri hingga hari ini. Sejarah juga tentang masyarakat, budaya, dan identitas yang menjadi fondasi terbentuknya sebuah daerah,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa mengangkat kembali sejarah Marga Nuban bukan untuk mempertentangkan sejarah kolonisasi yang menjadi bagian dari lahirnya Metro. Sebaliknya, hal itu merupakan upaya menghadirkan sejarah secara lebih lengkap dan berimbang agar generasi muda memahami perjalanan daerahnya secara utuh.

Tokoh adat tersebut berharap momentum HUT Kota Metro dapat menjadi ruang untuk merefleksikan seluruh unsur sejarah yang membentuk kota ini. Dengan demikian, pembangunan identitas daerah tidak hanya bertumpu pada simbol-simbol fisik, tetapi juga pada penghormatan terhadap nilai-nilai sejarah dan budaya yang diwariskan para pendahulu.

“Metro hari ini adalah hasil perjalanan panjang berbagai pihak. Karena itu, seluruh mata rantai sejarah yang membentuknya patut dihormati dan dikenang bersama,” pungkasnya.

Opini yang berkembang di kalangan tokoh adat ini menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari pembangunan yang tampak, tetapi juga dari kemampuannya menjaga dan menghormati akar sejarah yang menjadi bagian dari jati dirinya.

Lanjutnya, bahwa sejak 2013 muncul konsep Festival Putri Nuban sebagai upaya menghidupkan kembali ingatan sejarah tentang peran Buay Nuban dalam lahirnya Metro. Pemerintah Kota Metro sendiri pernah menyatakan bahwa Festival Putri Nuban bertujuan mempertahankan budaya Lampung Buay Nuban dan mengenalkan sejarah tersebut kepada generasi muda.

Bahkan pada 2022 sempat muncul kritik dari anggota DPRD Metro ketika nama Festival Putri Nuban diganti menjadi Festival Bumi Sai Wawai. Kritik tersebut didasarkan pada anggapan bahwa nama “Putri Nuban” merupakan simbol penghormatan terhadap sejarah Marga Nuban yang menyerahkan sebagian wilayahnya untuk perkembangan Metro.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *