Putri Nuban dalam Jejak Sejarah Kota Metro

Oleh : Husni Alholik, S.H. (Sesepuh Suttan – Buay Nuban)

Setiap kali Hari Ulang Tahun Kota Metro diperingati, masyarakat diajak menengok kembali perjalanan panjang kota ini sejak masa kolonisasi hingga menjadi salah satu pusat pendidikan dan jasa di Lampung. Namun di tengah rangkaian perayaan dan berbagai capaian pembangunan, terselip sebuah pertanyaan yang layak direnungkan, di manakah posisi Putri Nuban dalam narasi besar sejarah Kota Metro?

Sejarah memang mencatat kedatangan para kolonis pada tahun 1936, perubahan nama Trimurjo menjadi Metro pada 9 Juni 1937, serta tumbuhnya kawasan kolonisasi menjadi pusat pemerintahan dan perekonomian. Narasi inilah yang selama ini lebih banyak mewarnai peringatan hari jadi kota.

Akan tetapi, sejarah Metro sesungguhnya tidak dimulai pada saat para kolonis pertama kali menginjakkan kaki di wilayah ini. Jauh sebelum itu, tanah yang kini bernama Metro merupakan bagian dari wilayah Marga Nuban, sebuah komunitas adat yang telah memiliki sistem pemerintahan, kepemimpinan, dan tatanan sosial yang hidup serta berkembang di kawasan tersebut.

Dari perspektif itulah, Putri Nuban tidak semata-mata dipahami sebagai simbol budaya atau ikon festival tahunan. Ia merupakan representasi dari memori kolektif masyarakat tentang akar sejarah yang lebih tua dari usia administratif Kota Metro itu sendiri. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa modernitas Metro hari ini berdiri di atas jejak sejarah yang panjang dan berlapis.

Berbagai sumber sejarah lokal menyebutkan bahwa sebagian wilayah yang kemudian berkembang menjadi Metro berasal dari tanah adat Buay Nuban yang dilepaskan untuk kepentingan kolonisasi. Fakta sejarah tersebut menunjukkan bahwa lahirnya Metro bukan hanya hasil kebijakan kolonial, melainkan juga bagian dari perjalanan masyarakat adat yang telah lebih dahulu menghuni wilayah ini.

Mungkin karena kesadaran itulah Festival Putri Nuban mulai diperkenalkan pada 2013 sebagai upaya menghidupkan kembali ingatan publik terhadap peran Buay Nuban dalam sejarah Metro. Festival tersebut bukan sekadar agenda budaya, melainkan bentuk penghormatan terhadap identitas lokal yang menjadi salah satu fondasi terbentuknya kota.

Karena itu, menghadirkan kembali kisah Marga Nuban, para pesirahnya, serta nilai-nilai budaya yang diwariskan tidaklah berarti mengurangi arti penting sejarah kolonisasi. Sebaliknya, langkah tersebut justru akan membuat narasi sejarah Kota Metro menjadi lebih utuh, lebih berimbang, dan lebih kaya.

Sebuah kota yang matang bukan hanya diukur dari pertumbuhan fisik dan kemajuan ekonominya, tetapi juga dari kemampuannya merawat ingatan tentang asal-usulnya. Jalan, gedung, dan infrastruktur dapat menjadi penanda kemajuan, tetapi sejarah adalah ruh yang memberi identitas.

Pada usia Kota Metro yang terus bertambah, mungkin sudah saatnya ruang peringatan hari jadi tidak hanya menceritakan bagaimana kota ini dibangun, tetapi juga mengingat siapa yang lebih dahulu menjadi bagian dari tanah yang kini disebut Metro. Sebab di balik wajah modern Kota Metro hari ini, terdapat jejak panjang Marga Nuban yang patut dikenang, dihormati, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Putri Nuban pada akhirnya bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah jembatan yang menghubungkan Metro dengan akar sejarahnya sendiri. Dan sebuah kota akan semakin kuat, bukan ketika melupakan masa lalunya, melainkan ketika mampu merangkul seluruh sejarah yang membentuk dirinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *