Tanpa Cover Both Sides, Berita Bisa Berubah Jadi Alat Penghakiman

Oleh : Husni Alholik, S.H. (Wartawan Madya)

Di era kecepatan informasi, satu hal yang mulai terlihat jelas: tidak semua yang disebut “berita” benar-benar menjalankan fungsi jurnalistiknya. Ketika prinsip cover both sides diabaikan, yang lahir bukan lagi informasi, melainkan potensi penghakiman publik yang berbahaya.

Fenomena ini makin sering terjadi, terutama dalam pemberitaan kasus hukum dan konflik pejabat publik. Satu pihak bicara, langsung jadi headline. Tuduhan dilempar, langsung dikonsumsi publik. Sementara pihak yang dituduh? Kerap kali hanya muncul di paragraf terakhir, atau lebih parah, tidak diberi ruang sama sekali.

Ini bukan sekadar kelalaian. Ini bisa menjadi bentuk ketidakadilan informasi.
Padahal, dalam setiap perkara, ada prinsip dasar yang tidak boleh dilanggar: asas praduga tak bersalah. Ketika media hanya memuat satu sisi, publik secara tidak sadar diarahkan untuk percaya bahwa tuduhan adalah kebenaran.

Di titik ini, media tidak lagi menjadi penyampai fakta, tetapi berpotensi berubah menjadi “hakim jalanan”.
Dampaknya nyata. Reputasi bisa hancur hanya dalam hitungan jam. Nama baik tercoreng sebelum ada proses hukum yang jelas. Dan ketika klarifikasi akhirnya muncul, sering kali sudah terlambat, opini publik sudah terbentuk.

Lebih mengkhawatirkan lagi, praktik pemberitaan sepihak juga membuka celah persoalan hukum. Media yang tidak memberi ruang konfirmasi berisiko dituding melakukan pencemaran nama baik atau menyebarkan informasi yang merugikan pihak tertentu. Dalam konteks hukum digital saat ini, risiko itu bukan hal sepele.

Namun ironisnya, semua ini sering dibungkus dengan alasan klasik: kejar tayang. Padahal, cover both sides bukan berarti menghambat kecepatan. Ini soal itikad baik dan profesionalitas. Jika satu pihak belum merespons, cukup tuliskan bahwa upaya konfirmasi telah dilakukan. Transparansi seperti itu justru menunjukkan kualitas jurnalistik, bukan kelemahan.

Media harus ingat, publik hari ini tidak lagi pasif. Mereka membaca, membandingkan, dan menilai. Ketika sebuah berita terasa timpang, kepercayaan bisa runtuh seketika. Dan sekali kepercayaan hilang, sulit untuk mendapatkannya kembali.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana, apakah media ingin menjadi sumber informasi yang dipercaya, atau sekadar pengeras suara satu pihak?
Tanpa cover both sides, berita bukan hanya kehilangan keseimbangan tetapi juga berpotensi kehilangan integritasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *