Oleh: Husni Alholik, S.H.
Mentari pagi belum sepenuhnya naik ketika derap langkah warga mulai terdengar di gang-gang sempit permukiman Kota Metro. Ada yang membawa sapu lidi, ada pula yang mengangkat ember berisi air sabun. Di sudut lain, sekelompok ibu merapikan sajadah masjid, sementara anak-anak berlarian kecil, membantu dengan cara mereka sendiri.
Bukan karena perintah, bukan pula karena imbalan. Semua bergerak oleh satu rasa: rindu menyambut Ramadan.
Setiap helai debu yang disapu seolah menjadi doa, setiap tetes keringat berubah menjadi harap agar bulan suci ini datang membawa keberkahan.
Masjid-masjid kembali berseri, halaman rumah terasa lapang, dan hati pun perlahan disiapkan untuk menjemput ampunan Tuhan.
“Ramadan itu tamu agung,” ujar seorang warga sepuh sambil berhenti sejenak mengatur sandal di teras masjid.
“Kalau tamu istimewa datang, masa kita tidak bersihkan rumah dan jiwa?”
Di tengah kesederhanaan, kebersamaan terasa begitu hangat. Pemuda yang biasanya sibuk dengan gawai kini berjongkok membersihkan selokan. Para ibu saling berbagi senyum sambil menyiapkan rencana berbagi takjil. Anak-anak belajar bahwa menyambut Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tapi tentang berbagi dan peduli.
Penulis turut mengajak masyarakat menjadikan momentum ini sebagai penguatan iman dan solidaritas sosial. Namun yang paling terasa justru datang dari inisiatif warga sendiri, gerakan sunyi yang penuh makna.
Di kota ini, Ramadan tak disambut dengan gemerlap, melainkan dengan sapu, do’a, dan hati yang ingin bersih.
Karena bagi mereka, menyambut bulan suci bukan sekadar tradisi, melainkan perjalanan pulang menuju nilai kemanusiaan yang paling indah: kebersamaan, keikhlasan, dan cinta sesama.
